FORAGING AND FEEDING EFICIENCY (Ketangkasan Mencari Makan Dan Berburu)

KETANGKASAN MAKAN DAN BERBURU

Kebutuhan nutrisi sangat penting bagi tercapainya kelangsungan hidup dan perkembangbiakan atau reproduksi. Seleksi alam diharapkan mampu menyaring tingkah laku yang dapat mempertinggi ketangkasan dalam mendapatkan makanan. Tingkah laku dalam mencari makan atau berburu (foraging) tidak hanya menyangkut proses makan akan tetapi juga menyangkut beberapa mekanisme dari hewan untuk dapat mengenali, mencari dan menangkap mangsanya.

Mekanisme (feeding) adalah suatu proses dimana organisme khususnya hewan membutuhkan makanan yang bertujuan untuk memperoleh bahan atau materi dan pengumpulan atau perolehan energi. Dengan makanan yang diperolehnya suatu hewan akan memperoleh energi untuk efektivitas hidupnya. Sedangkan pencarian makan (foraging) adalah suatu usaha organisme dalam memperoleh makanan untuk kelangsungan hidupnya. Mencari makan memiliki keuntungan dan kesulitan. Keuntungannya adalah mengumpulkan materi dan energi, yang dapat digunakan dalam pertumbuhan, pemeliharaan dan reproduksi. Kerugian atau kesulitan hewan dalam mencari makan yang seringkali di alami dalam mencari makan harus mengetahui akan potensi dirinya untuk predator dan banyak menghabiskan waktu untuk mencari makan serta tidak tersedia untuk kegiatan lainnya, termasuk reproduksi. Seleksi alam harus mendukung perilaku mencari makan yang memaksimalkan perbedaan antara keuntungan dan kesulitan mereka dalam mencari makan.

Aktivitas makan ialah perilaku yang terjadi dari seekor hewan sasaran untuk menggapai, mengolah, mengekstrasi (menghasilkan), memegang-megang, mengunyah dan menelan makanan pada suatu sumber makanan (misalnya : pohon, tanaman, serangga). Lamanya aktivitas makan ini sangat berkaitan dengan tersedianya makan pada suatu sumber. Kadang-kadang seekor hewan melewatkan waktunya berjam-jam pada suatu tempat (pohon), tetapi aktivitas makannya berlangsung singkat. Galdikas (1984)

Pada dasarnya ada lima kategori utama dari hewan dalam cara makannya, yaitu:

Pemakan materi berupa substrat

Pemakan materi berupa substrat adalah hewan yang hidup di atas atau di dalam sumber makanannya, misalnya larva dari ngengat. Larva ini memakan mesophyl dari daun pohon oak, meninggalkan bekas berupa jejak berwarna hitam yang merupakan fesesnya. Contoh lain adalah belatung yang bersembunyi dan tinggal di bangkai hewan.

Pemakan materi berupa suspensi

Beberapa spesies dari hewan air/akuatik merupakan pemakan materi berupa suspensi, dimana mereka menyaring partikel-partikel makanan yang terdapat dalam air. Misalnya ikan paus yang berpunggung bongkok, menggunakan lapisan seperti sisir yang disebut baleen yang melekat pada bagian rahang atas yang berfungsi menyaring invertebrata dan ikan kecil.

Pemakan materi berupa cairan

Pemakan materi berupa cairan biasanya meghisap cairan yang kaya nutrisi dari organisme hidup yang merupakan hospesnya. Contohnya adalah nyamuk yang menghisap darah manusia dengan suatu bagian dari mulutnya yang bentuknya seperti jarum. Namun sebenarnya ada pemakan materi berupa substrat yang menguntungkan yaitu burung kolibri dan lebah yang berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain untuk mengambil nektarnya namun ternyata membantu proses reproduksi bunga.

Pemakan materi dalam bentuk yang besar

Kebanyakan hewan merupakan pemakan materi dalam bentuk yang besar, yang mana memakan potongan-potongan yang relatif besar dari makanannya. Cara adaptasi mereka berupa bermacam-macam alat seperti tentakel, capit, cakar, taring yang berbisa, rahang dan gigi yang mampu membunuh mangsanya atau mencabik-cabik daging atau tumbuhan. Misalnya ular phyton yang menangkap dan membunuh mangsanya yaitu rusa dengan cara membelit. Ular tidak dapa tmengunyah makanan menjadi beberapa potongan kecil, sehingga ular ini harus menelan seluruhnya walaupun mangsanya lebih besar dari diameter tubuhnya. Setelah menelan mangsanya, ular akan beristirahat selama beberapa jam untuk m,encerna makanan.

Fagositosis yaitu mengambil makanan dengan menggunakan sel membran.

Terdapat beberapa klasifikasi lain yang termasuk kedalam kelompok makanan seperti:

Karnivora pemakan daging

Dentrivora pemakan dengan cara menguraikan materi

Folivora pemakan dedaunan

Frugivora pemakan buah

Granivora pemakan benih

Herbivora pemakan tumbuhan

Insectivora pemakan insecta

Nectarivora pemakan nectar

Omnivora pemakan tumbuhan dan daging

Piscivora pemakan ikan

Sanguinivora pemakan darah

Saprovora pemakan material yang telah mati

Terdapat juga beberapa sumber makanan yang dapat menyebabkan perbedaan tingkah laku, yaitu:

Ophiophagi pada ular

Hematophagy pada darah

Coprophagy pada feses

Cannibalisme yaitu memakan anggota yang sama spesiesnya

Paedophagy pemakan spesies yang lebih muda

Leidophagy, terdapat pada ikan makanan berupa sisik ikan lain

Dilihat dari cara makannya, hewan dapat dibagi menjadi:

Berburu secara aktif.

Pada umumnya anggota carnivora mendapatkan mangsanya dengan jebakan atau mengalahkan mangsanyan atau keduanya. Predator harus dapat berbuat licik dengan memperdaya dan mengakali mangsanya untuk dapat bertahan hidup. Karena itu umumnya hewan predator (carnivora) lebih cerdik dibandingkan dengan hewan herbivora.

Contohnya: serigala selalu dapat menangkap mangasanya (kelinci, musang ataupun tikus). Walau demikian singa dan harimau kemungkinan berhasil menangkap mangsanya hanya 5-10%, tetapi sejenis anjing dari afrika dapat menangkap mangsanya sampai 85%.

Sejenis tikus di gurun pasir di AS, predatornya adalah burung hantu dan ular tanah. Burung hantu mempunyai pendengaran dan penglihatan yang peka, sedangakn ular tanah mendeteksi mangsanya denagn kepekaan organ jacobsonnya. Tetapi tikus gurun tersebut mempunyai pendengaran yang sangat peka, sehingga dpat mendengar kepakan sayap burung hantu ataupun gesekan ular tanah. Sehingga sebagian besar predator gagal mendapatkan mangasanya.

Berburu secara pasif

Hewan yang memburu mangsanya secara pasif antara lain katak. Katak akan menunggu mangasanya yaitu serangga yang lewat baru kemudian ditangkap. Bedanya antara katak dengan serigala kalau serigalamelihat kelinci respon yang dilihat mata terus dibawa ke otak untuk terus diproses bagaimana caranya menangkap mangsanya. Tetapi pada katak, respon yang ada hanya diproses di retina mata tidak dibawa ke otak.

Makan dengan ribut

Ikan hiu waktu memakan mangsanya, karena darah mangsanya bercampur dengan air maka akan mengundang hiu yang lain untuk datang dan ikut meerbut mangsa. Sehingga suasananya menjadi ribut. Sedangkan pada musang karena mangsanya tidak langsung mati maka akan membuat gaduh dan ayam masih ribut terus itu dilarikan musang.

Parasitisme

Pada predator, hewan membunuh baru kemudian memakan mangsanya. Tetapi ada juga yang membunuh sambil memakan atau membunuh secara tidak langsung yaitu organisme tersebut hidup di alam atau pada organisme lain serta mendapatkan makanan darinya.

Adanya spesialisasi organisme disebabkan karena perbedaan sumber makanan sehingga menyebabkan perubahan bentuk dan fungsi suatu organisme seperti:

Bagian mulut dan gigi, contohnya ikan paus, lintah, nyamuk hewan predator seperti kucing dan ikan.

Perbedaan paruh pada burung seperti pada burung pelatuk, burung pelikan dan burung beo.

Perbedaan kuku dan beberapa alat tambahan lain yang berfungsi untuk membunuh termasuk jari-jari pada primata.

Termasuk juga warna tubuh yang berperan dalam kamuflase, bersembunyi dan menangkap mangsa.

Perbedaan sistem digesti seperti perut herbivora, komensalisme dan simbiosis.

Selain perilaku makan, umumnya hewan juga butuh minum. Bila makan dipakai untuk membangun tubuhnya (sumber tenaga), maka minum dialai umtuk mengganti cairan tubuh yang hilang atau rusak untuk proses yang terjadi di dalam tubuh. Hewan ada yang mendapatkan minum secara langsung, tetapi ada yang mendapatkan minum sudah bercampur dengan makanannya. Misalnya lebah mendapatkan langsung dari madu.

Pada burung ada yang memberi minum anaknya lewat makanannya atau dengan induknya membasahi bulunya, agar anaknya dapat minum. Sedangkan merpati memberi minum anaknya dengan “pigeon’s milk”, yaitu cairan kental yang disekresi oleh temboloknya.

Terdapat 4 tingkatan klasifikasi yang digolongkan pada tipe memakan pada kumbang dan insecta.

Mycetophagus (mysophagans) yaitu pemakan fungi atau jamur:

Mixomycetophagans, pemakan myxomycetes

Sporophages, pemakan spora jamur

Xylomycetophagans, habitat pada kayu dan mengkonsumsi jamur yang sedang tumbuh pada kayu tersebut

Capromycetophagans

Sapromycetophagans

Zoomytophagans

Phytophagans (pemakan tumbuhan)

Bryophagans, pemakan lumut

Lichenophagans, pemakan lichen

Algophagans, pemakan alga

Herbiphagans, pemakan tumbuhan herba

Rhizophagans, pemakan akar

Phyllophagans, pemakan daun

Anthophagans, pemakan bunga

Palynophagans (polliniphages), pemakan serbuk sari

Carpophagans, pemakan buah dan benih

Dendrophagans, pemakan pohon dan semak belukar

Xylophagans, pemakan kayu

Zoophagans

Predators, membunuh mangsanya dan memakan mangsa tersebut seketika

Helminthophagans, hidup parasit pada cacing dan digolongkan sebagai helminthes

Malacophagans, hidup parasit pada mollusca

Mixoentomophagans, hidup parasit pada serangga

Enthomophagans, hidup parasit pada insecta

Oophagans, hidup parasit pada telur insecta dan arthropoda lain

Parasites, tinggal di tubuh hewan lain (hospes) dan mendapat makanan dari hospes tersebut

Endoparasites, hidup berdampingan dengan tubuh hospesnya

Ectoparasites, hidup secara external di luar tubuh hospesnya dan memakan jaringan external atau bagian yang telah mati.

Parasitoids, hidup di atas atau di dalam tubuh hospesnya dan secara berangsur-angsur memakan tubuh hospes tersbut hingga akhirnya akan menyebabkan kematian.

Endoparasitoids, hidup di dalam tubuh hospesnya dan memakan hospes tersebut dari dalam

Ectoparasitoids, hidup diluar tubuh hospesnya dan memakan hospes tersebut secara external

Hemophagans, penhgisap darah

Saprophagans

Detritophagans (schisophagans), hidup di atas hewan dan tumbuhan hanya sebagai landasan

Coprophagans, hidup pada kotoran binatang

copromycetophagans

Necrophagans, hidup pada binatang yang telah mati

Sarconecraphagans, hidup pada hewan bertulang belakang yang telah mati

Entomonecrophagans, hidup pada hewan invertebrata yang telah mati

Ceratophagans, hidup pada jaringan dan rambut hewan

Saproxylophagans

Sapromycetophagans

Hewan mencari makan dengan berbagai cara. Beberapa hewan merupakan tipe generalis (umum) dan yang lainnya adalah tipe spesialis (khusus). Contoh paling nyata dari tipe generalis adalah burung camar yang mana dia makan makanan yang ketersediaannya tetap (baik hewan maupun tumbuhan, baik hidup atau mati). Di lain pihak, koala adalah contoh dari tipe spesialis yang makannya hanya berupa spesies tertentu dari pohon eucalyptus. Kebanyakan hewan terletak di antara tipe generalis dan tipe spesialis. Contohnnya adalah impalas yang merupakan pemakan rumput dan pemakan semak. Apabila rumput melimpa maka impalas akan makan rumput, akan tetapi dia juga dapat memakan semak-semak bahkan daun kering serta herba. Keberhasilan dari impalas dari pada daerah yang berhubungan dengan adaptasi mereka terhadap pencarian dan perburuan makanan. Di lain pihak, koala hanya mempunyai daerah dengan pohon eucalyptus yang terbatas sehingga jika habitatnya hilang maka akan mengalami kepunahan.

Dalam perburuan mangsa terdapat adanya penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan adalah didapatkannya bahan dan energy yang dapat digunakan untuk pertmbuhan, pemeliharaan dan perkembangbiakan. Sedangkan pengeluaran lebih sukar dipahami,hewan pemburu harus memfokuskan diri sebagai predator yang potensial yang dalam perburuan ini banyak menghabisan waktu sehingga sedikit atau tidak ada waktu untuk aktivitas lain termasuk reproduksi. Seleksi alam mempengaruhi tingkah laku pencarian makan yang memaksimalkan keuntungan atau manfaat pencarian makan dan tenaga atau biaya mencari makan. Dalam hal ini hewan akan berusaha bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan tenaga atau upaya yang sekecil-kecilnya. Yang disebut dengan teori pencapaian optimal.

Klasifikasi pemangsa secara fungsional ada 4 macam pemangsa :

Pemangsa sejati

Yaitu memakan mangsanya segera sesudah serangannya berhasil, serta selama masa hidupnya pemangsa sejati membunuh beberapa atau banyak individu mangsa yang berlainan. Sering pemangsa sejati mengkonsumsi seluruh tubuh mangsa tetapi beberapa pemangsa sejati hanya makan beberapa bagian tubuh mangsanya. Pemangsa sejati misalnya : harimau, burung garuda, karnivora, rodentia pemakan biji-bijian, semut, dan lain-lain.

Grazers

Yaitu suatu tipe pemangsa tetapi makhluk yang dimangsa dibunuh hanya bagian tubuhnya yang dimakan dan sisanya dibiarkan dengan potensi dapat regenerasi. Grazer juga membunuh sejumlah besar mangsa dalam hidupnya. Contoh grazer adalah vertebrata besar sperti domba atau sapi, lalat menghisap darah ternak dan darah manusia.

Parasit

Yaitu makhluk yang menkonsumsi bagian-bagian mangsa (dalam hal ini disebt inang/hospes) bukan keseluruhan tubuh mangsa itu. Tidak seperti Grazers parasit memusatkan serangannya pada satu atau beberapa individu selama hidupnya. Parasit dalam jangka pendek tidak tetap tapi merugikan. Ada semacam keakraban antara parasit dengan hospesnya dan keakraban ini tidak ada antara mangsa dan pemangsa sejati dan grazers. Contoh parasit adalah cacing hati, virus cacar, bakteri.

Parasitoid

Yaitu sekelompok makhluk insekta yang dikelompokkan dengan dasar perilaku bertelur betina dewasa da pola perkembangan larva selanjutnya. Mereka terutama tergolong ordo hymeneptera tetapi meliputi banyak juga dipteral. Mereka hidup bebas waktu dewasa tetapi betinanya bertelur di dalam dekat insekta lain. Larva parasitoid berkembang di dalam individu hospes yang masih tingkat pre dewasa. Pada awalnya hanya sedikit kerusakan yang tampak yang ditimbulkan kepada hospesnya, tetapi slanjutnya hampir dapat mengkonsumsi seluruh hospes dan dengan demikian membunuh hospes itu sebelum atau selama stadium kepompong (pupa). Ringkasnya parasitoid hidup bersama akrab dengan individu hospes tunggal ( seperti parasid mereka tidak menyebabkan kematian segara atas hospes tetapi dapat menyebabkan kematian).

Karnivora mempunyai 2 cara khusus dalam berburu, yaitu :

Strtegi duduk dan menunggu

Predator atau pemangsa duduk dan menunggu di suatu tempat sampai mangsa datang dan selanjutnya menerkam mangsanya.

Strategi berburu dan menyebar luas.

Predator secara aktif mendari mangsanya

Dengan jelas terlihat bahwa strategi ke-2 pasti memerlukan pengeluaran energi yang lebih besar dari pada strategi yang pertama. Keberhasilan pada strategi duduk dan menunggu biasanya tergantung pada beberapa kondisi tertentu yaitu tingginya kepadatan mangsa, tingginya perpindahan mangsa dan atau rendahnya kebutuhan energy predator atau pemangsa. Sedangkan keberhasilan strategi berburu dengan menyebar luas juga dipengaruhi oleh kepadatan dan pergerakan mangsa dan energy yang dibutuhkan oleh predator, namun distribusi dari mangsa dan kemampuan mencari dianggap yang terpenting.

Walaupun kedua strategi ini bukan hanya semata-mata salah satu bentuk dari cara berburu, teknik berburu secara nyata dikerjakan oleh banyak organism yang saling bertentangan. Pembagian antara strategi duduk dan menunggu dengan strategi berburu dengan menyebar luas mempunyai nilai kepentingan. Sebagai contoh diantara ular, kuda, dan cobra dianggap berburu dengan menyebar luas ketika dibandingkan dengan boa, phyton, dan ular berbisa yang merupakan pencari makan dengan duduk dan menunggu. Hampir sama, diantara burung elang, burung cooper dan lainnya biasanya berburu dengan menyerang secara tiba-tiba dengan menggunakan strategi duduk dan menuggu, mengingat burung elang merupakan pemburu yang menyebar luas.

Contoh hewan yang memiliki strategi menuggu mangsa adalah laba-laba. Banyak laba-laba menghabiskan energy dan waktu membangun jaring-jaring mereka dari pada bergerak mencari mangsa. Untuk memperoleh mangsa, seekor laba-laba sejenis Dinopsis sp membuat benang perangkap. Pada benang-benang perangkap tersebut terdapat butiran-butiran lengket untuk menangkap ngengat jantan. Ngengat jantan dapat terperangkap karena pada butiran-butiran tersebut mengandung sejenis hormone fenomon yang dimiliki oleh ngengat betina. Dengan menggerak-gerakkan benang tersebut ngengat jantan akan tertarik dan mendekati benang tersebut karena mengira ada ngengat betina. Ketika ngengat jantan tertangkap pada butiran yang lengket maka laba-laba Dinopsis sp akan memangsanya.

Pertimbangan yang hampir sama tersebut dapat dijadikan pembanding antara herbivore dan karnivora. Karena kepadatan makanan berupa tumbuhan selalu tersedia dalam jumlah yang besar melampaui kepadatan dari makanan berupa hewan. Bagi herbivore kebutuhan energy yang digunakan untuk memangsa atau mencari makan relative lebih sedikit dari pada energy yang dibutuhkan oleh karnivora. Hal ini dikarenakan mangsa dari herbivora tidak mempunyai mobilitas karena merupakan tanaman, sedangkan pada karnivora mangsanya bersifat mobilitas sehingga dibutuhkan energy yang lebih banyak untuk mendapatkan mangsanya. Dalam mencerna makanan, herbivore membutuhkan lebih banyak waktu. Hal ini terjadi karena makanan herbivore (ruminansia) berupa rumput-rumput yang mengandung selulosa karena selulosa sulit untuk diccerna dan membutuhkan proses pencernaan mekanik dua kali.

Bagi karnivora yang makanannya berupa hewan terdiri dari protein, lemak, karbohidrat yang lebih mudah dicerna dengan segera. Karnivora dapat mencoba memperhitugkan kehilangan dalam mencari makanan atau mangsa karena permintaan. Pembagian dan konvensi makanan pada jaringan hewan itu sendiri (proses asimilasi).

Kepadatan mangsa secara kuat dapat mempengaruhi waktu dan persediaan energy hewan. Gibb (1956) peneliti Anthus spinoletta mencari makan pada daerah intertidal sepanjang pantai inggris pada musim dingin pada dua musim dingin secara berurutan. Musim dingin pertama lebih ringan dan dalam penelitian burung menghabiskan 6.5 jam untuk mencari makan, 1.75 jam untuk istirahat dan 45 menit untuk mempertahankan daerah kekuasaannya (jumlah penyinaran matahari per hari sedikit lebih tinggi dari 9 jam). Musim dingin berikutnya lebih keras dibanding musim dingin pertama dan makanan sangat langka. Burung menghabiskan 8,25 jam untuk mencari makan, 39 menit untuk istirahat dan hanya 7 menit untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Rupanya kombinasi dari rendahnya kepadatan makanan dan dingin yang ekstrem (homoitermik memerlukan energi lebih pada iklim yang dingin) menuntut lebih dari 90% waktu burung untuk menggunakannya untuk mencari makan dan tidak ada waktu untuk aktivitas lain. Contoh ini menunjukkan bahwa makanan lebih dipertahankan pada saat jumlah lebih sedikit yang ditunjukkan dari pengurangan waktu yang digunakan untuk mempertahankan daerah kekuasaan. Secara jelas, kepadatan atau ketersediaan makanan pada tahun kedua mendekati batas minimal yang mengharuskan Anthus spinoletta untuk bertahan.

Ada beberapa tipe mengenai teori pengambilan makanan secara optimal yang relevan untuk dalam situasi pengambilan makanan yang berbeda, yaitu:

Model diet optimal dimana mendeskripsikan tingkah laku dalam pengambilan makanan dalam menghadapi perbedaan tipe mangsa dan ketika memilih untuk menyerang

Teori seleksi patch dimana mendeskripsikan tingkah laku dalam pengambilan makanan dalam menyerang mangsa pada area yang sempiyt dengan waktu perpindahan yang signifikan

Teori pengambilan makanan tempat terpusat dimana mendeskripisikan tingkah laku dalam pengambilan makanan tersebut harus menguntungkan untuk sebuah keterangan tempat dalam pindah perintah untuk mengkonsumsi makanan tersebut atau kemungkinan untuk menimbun atau memakannya untuk sebuah pasangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell & Reece. 2005. Biology Seventh Edition. San fransisco: Benjamin Cummings Publisher.

Campbell, et al. 2006. Biology Concepts and Connections. San fransisco: Benjamin Cummings Publisher.

Pianka, erick R. 1974. Evolutionary Ecology. New york: Harper & Row Publisher, inc.

Stilling, Peter D. 1992. Introductory Ecology. New jersey: Prentice Hall, inc.

http://en.wikipedia.org/wiki/feeding

http://lifesci.rutgers.edu/-triemer/feed appt/feedingapparatus

http://en.wikipedia.org/wiki/optimal foraging theory#response curves

http://dares-perilakuhewan.blog.com/1281456/ perilaku makan minum

Iklan

Tentang cillperqueen

simple person
Pos ini dipublikasikan di Ekologi Hewan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s